
JEPARA — Lantunan salawat dan haru menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Babus Salam Mulyoharjo pada Ahad, 21 Juni 2026. Sejak pukul 08.00 WIB, ratusan wali santri, tokoh masyarakat, dan alumni telah memadati area pesantren untuk menghadiri agenda tahunan yang paling dinanti: Haflah Muwadda’ah (Wisuda Kelulusan). Acara berlangsung khidmat dan rampung tepat setelah azan dzuhur berkumandang.
Tahun ini, prosesi wisuda diikuti oleh 25 murid Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan 2 santri Madrasah Diniyah (Madin) Salaf. Meski secara kuantitas terbilang ramping, kualitas dan bekal yang dibawa pulang oleh para wisudawan kali ini tidak main-main.
Urgensi Sanad Keilmuan di Era Digital
Puncak acara yang paling dinantikan adalah Mau’idlah Hasanah (nasihat baik) yang disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Babus Salam, KH. Sahal Mahfud. Di hadapan para wisudawan dan wali santri, beliau memberikan ulasan mendalam mengenai konsep sanad keilmuan—mata rantai guru yang menyambung hingga Rasulullah SAW.
“Sanad itu adalah bagian dari agama. Tanpa sanad, siapa pun akan berbicara tentang agama sesuka hatinya. Di sinilah pentingnya santri memiliki sanad yang jelas agar ilmu yang didapat berkah dan membawa keselamatan hidup,” tegas KH. Sahal Mahfud.
Beliau juga memberikan pesan kuat kepada para orang tua agar lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih guru maupun pondok pesantren untuk anak-anak mereka. Terlebih, akhir-akhir ini media massa sering dihiasi oleh pemberitaan negatif yang mencoreng institusi pesantren. Sanad yang jelas dan rekam jejak pengasuh yang alim (berilmu) adalah benteng utama agar tidak salah melangkah.
“Jangan Berpikir Nanti Setelah Mondok Mau Jadi Apa”

Sebuah pesan visioner dan menenangkan hati meluncur dari KH. Sahal Mahfud untuk mengikis kekhawatiran klasik para orang tua zaman sekarang:
“Jangan pernah seorang santri berpikir nanti setelah mondok dan mengaji mau jadi apa. Tugas santri itu belajar, mengaji, dan menata niat. Urusan masa depan, Allah yang menjamin lewat berkahnya ilmu.”
Ucapan ini bukan sekadar pemanis retorika. Pesantren Babus Salam Mulyoharjo telah memberikan bukti nyata (fakta empiris) bahwa kurikulum mereka tidak membuat santri gagap zaman. Di sini, para santri tidak hanya ditempa untuk mahir membaca Kitab Kuning (literatur Islam klasik) secara mendalam, tetapi juga dibekali dengan kemampuan adaptasi dunia modern.
Pesantren ini telah mengintegrasikan pendidikan agama dengan kewirausahaan (entrepreneurship). Komitmen modernisasi tersebut dibuktikan dengan lahirnya Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) dengan Jurusan Bisnis Digital.
Analisis Reporter: Santri Masa Kini, Penguasa Pasar Digital Masa Depan
Langkah Ponpes Babus Salam Mulyoharjo mengawinkan jalur Madin Salaf dengan MAK Bisnis Digital adalah sebuah strategi yang brilian. Di tengah ketatnya persaingan industri 4.0, Babus Salam berhasil mematahkan stigma bahwa santri salaf itu kuno.
Dari kacamata jurnalisme, laporan ini menunjukkan potret ideal pesantren masa depan:
- Sisi Spiritual: Kokoh dengan tradisi hafalan dan sanad Kitab Kuning yang terjaga otentisitasnya.
- Sisi Praktikal: Siap bertarung di dunia kerja dengan keahlian marketplace, digital marketing, dan manajemen bisnis modern.
Haflah Muwadda’ah 2026 ini bukan sekadar upacara perpisahan biasa. Ini adalah momen pelepasan generasi baru: Para Santri Technopreneur yang siap pulang ke masyarakat membawa berkah doa para kiai, sekaligus membawa proposal bisnis digital yang siap memajukan ekonomi umat. Selamat kepada para wisudawan Ponpes Babus Salam Mulyoharjo!
Red. AY_BSM


